Lena tercengang. “Siapa itu yang tadi menelpon? Mengapa dia memakai nomor Stephen? Di mana Stephen?”
Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Lena. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke Jalan La Defense nomor 5 seperti yang dikatakan oleh yang menelpon tadi. Segera ia menelpon Amanda.
“Amanda, maaf aku tidak bisa pergi jalan-jalan denganmu. Ada sesuatu yang mendadak harus aku lakukan.”
Amanda bingung, “Lho, tadi semangat mau jalan-jalan. Kog ga jadi? Memang ada apa sih kog kayaknya penting banget?”
Lena terdiam, “Tadi ada yang telpon aku. Pakai nomor Stephen. Penelponnya perempuan. Dia bilang kalau mau tau Stephen di mana, datang ke Jalan La Defense nomor 5.”
“Lha, ya udah kalau gitu, kita ke La Defense aja. Aku pengen tau ada apa sih emangnya di sana?”
“Betul kamu mau nemani aku, Manda? Kamu kan mau jalan-jalan?”
“Eh, urusan Stephen lebih penting. Lagipula aku juga penasaran tuh pengen tau, lagi apa Stephen di sana? Kog ga biasanya dia ke La Defense.”
Lena memeluk Amanda, “Thanks, Manda.”
“Eh kog pake ‘thanks’ segala? Udah semestinya lah. Kamu tuh dah aku anggap seperti saudara sendiri. Yuk kita pergi.”
Perjalanan ke La Defense memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah sampai dan mencari alamat rumah tersebut, mereka akhirnya sampai di depan rumah tersebut. Lena dengan berdebar-debar menekan bel rumah tersebut. Satu menit, dua menit, lima menit, tidak ada yang membukakan pintu.
“Lho kog gak ada yang bukakan pintu sih?” Amanda lalu mencoba membuka gerendel pintu dan ternyata terbuka. Lena memasuki pintu dengan gemetar. Tak sampai satu menit ia segera keluar dengan air mata bercucuran.
“Heh, Len? Ada apa? Len?” Amanda berlari menyusul Lena. Tapi Lena berlari terlalu cepat dan meninggalkan Amanda.
Amanda tersentak lalu memasuki rumah itu.